Fiksi Mini

AROMA TAK BERASAL

Visual karya AROMA TAK BERASAL

AROMA TAK BERASAL
Fatma Yuny Isnaeny

Malam satu Suro…
Langit malam seperti ditarik awan kelam, sepi dan menekan. Nacita baru saja melipat sajadah setelah menunaikan sholat magrib. Masjid kecil tempatnya beribadah malam itu berdiri berdampingan dengan sebuah wihara tua, hanya dibatasi pagar rendah. Bau dupa menyelinap ke dalam ruang sholat, samar, namun terasa menusuk ke dalam kepala.
Selesai sholat, Nacita bergegas menyeberang ke warung nasi goreng karena perut sudah berisik tanda tak mau diusik. Sampailah Nacita di warung gerobak Nasi Goreng Bang Mahmud.
“Pakai telur ya, bang,” ujar Nacita.
Begitu Nacita membuka dompet dan mengambil selembar uang, sesuatu aneh terjadi. Uang itu menguar aroma yang tidak biasa, bukan parfum, bukan kayu manis. Dupa murni dan pekat.
Penjual nasi goreng menghentikan gerakannya. Wajahnya menegang.
“Yang lain aja, neng. Jangan uang ini,” kata bang Mahmud yang seakan tahu sesuatu.
“Kenapa, bang?” tanya Nacita penasaran.
Bang Mahmud menggeleng, enggan menjawab. Dengan berat hati, Nacita menyelipkan kembali uang itu dan menggantinya. Tapi pikirannya tak tenang.
Keesokan harinya, Nacita mencoba membelanjakan uang itu lagi, di minimarket, apotek, bahkan tukang buah. Semua penjual menolak. Beberapa mengeluh mual atau pusing setelah menyentuh uang itu.
Malam harinya, Nacita memang berniat tidak pergi kemana-mana. Tak tahan, Nacita membuka dompet dan meneliti uang tersebut. Di bawah cahaya lampu belajar, Nacita melihat goresan samar seperti tinta luntur, tulisan Mandarin. Nacita memotretnya dan segera minta bantuan ke media online untuk menerjemahkan.
Disana tertulis … ‘Na Ci Ta’.
Terkejut, Nacita menelusuri kembali asal uang itu. Ia ingat uang itu ia ambil dari laci meja kantor lamanya yang sudah kosong setahun. Rasa penasaran membuncah, ia kembali ke masjid dekat wihara, berharap dapat petunjuk.
Tiba-tiba matanya tertumbuk pada papan pengumuman kecil di dinding masjid. Tertempel pamflet tua bertuliskan: ‘Persembahan Duka untuk Nona Na Cita, sumbangan diterima oleh Wihara Dharma Sejati’.

Foto hitam putih di pojok kanan pamflet itu membuat tubuhnya melemas. Perempuan dalam foto itu… mirip dirinya. Terlalu mirip. Jantungnya berdebar keras. Nacita memberanikan diri masuk wihara. Di sana, penjaga tua menyambutnya.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pak penjaga.
“Saya... saya ingin tahu soal perempuan di pamflet ini,” jelas Nacita.
Penjaga menatapnya lama. “Anda... mirip sekali. Kami dulu menerima persembahan atas nama beliau. Tapi uangnya... sering kembali sendiri. Seolah belum selesai urusannya.”
Nacita menunjukkan uang dalam dompetnya. Bau dupa langsung menyebar di udara. Penjaga terdiam, lalu berkata pelan, “Mungkin... dia belum benar-benar pergi. Dan entah kenapa, memilih menitipkan aromanya kepada Anda.”
Tanpa piker Panjang Nacita menyerahkan uang yang beraroma dupa ke penjaga wihara, dan tanpa kata Nacita langsung meninggalkan wihara.
Sesampai di kamar Nacita, ternyata wangi itu masih ada dan sama. Selembar uang yang bertuliskan huruf mandarin masih tergeletak di atas meja.
“Bukankah aku tadi sudah menyerahkan ke penjaga wihara?” suara Nacita ketakutan. Nacita merinding, tak paham apa yang terjadi. Aroma itu yang jelas bukan aroma biasa, dan tentu saja pemiliknya bukanlah Nacita yang sekarang. Lalu siapa perempuan itu????

Diskusi karya

Komentar penulis & pembaca

Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.

0 tampil
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.