Puisi

Matahari yang menjadi sosok

### *Matahari yang menjadi sosok*

Ibu seperti matahari—
datang tanpa pernah diminta,
namun selalu tahu
bagaimana caranya membuat dunia
terasa sedikit lebih hangat.

Ia adalah cahaya
yang sering kali lupa pada dirinya sendiri,
sibuk menerangi jalan orang lain
sampai lupa bahwa
dirinya pun pernah ingin
berjalan tanpa harus menjadi penerang.

Ibu tahu kapan harus bersinar,
kapan harus menghangatkan,
dan kapan harus meredup
di balik diamnya.

Namun anehnya,
meski cahayanya tak selalu terlihat,
aku tetap tahu ia ada.

Mungkin karena sejak kecil,
aku terbiasa menemukan rumah
di dalam hangatnya.

Ada banyak hal
yang tidak pernah ibu ceritakan.
Tentang hari-hari yang berat,
tentang lelah yang disembunyikan
di balik senyum,
tentang air mata yang mungkin
jatuh ketika tak seorang pun melihat.

Sebab ibu terlalu sering menjadi langit
bagi orang-orang yang sedang kehilangan arah,
sampai tak ada yang bertanya
siapa yang menjadi langit untuknya.

Dan semakin aku tumbuh,
semakin aku mengerti—

matahari tidak selalu harus bersinar.

Ia boleh redup.
Ia boleh bersembunyi di balik awan.
Ia boleh kehilangan cahayanya
untuk sesaat.

Karena bagiku,
ibu tidak harus selalu kuat
untuk tetap menjadi ibu.

Jika suatu hari cahayanya terlalu lelah
untuk sampai kepadaku,
aku tidak ingin lagi
hanya berdiri di bawah sinarnya.

Aku ingin mendekat,
duduk di sampingnya,
dan berkata—

**“Kalau hari ini ibu ingin menjadi gelap,
biarkan aku yang menjadi cahaya.”**

Sumber / referensi
  • SMP GIS 2 KELAS 9C ASYIFA
Diskusi karya

Komentar penulis & pembaca

Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.

0 tampil
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.