PESAN YANG TAK PERNAH SAMPAI
Fatma Yuny Isnaeny
Namaku Elara, usiaku 22 tahun. Aku mahasiswi jurusan seni rupa di kampus negeri Jakarta, dan sejak lahir aku tidak bisa berbicara. Tapi sesungguhnya, bukan itu yang membuatku merasa paling sedih dan kehilangan. Yang lebih menyesakkan saat menyimpan ribuan kata yang ingin kusampaikan, namun tak pernah sampai pada orang – orang yang kuharap bisa mendengarnya.
Kampusku saat itu memang sangat ramai, penuh orang-orang hebat, tapi aku hidup dalam dunia yang tenang dan sunyi. Di sanalah aku mulai mengekspresikan segalanya lewat tulisan dan gambar. Aku berbicara lewat bentuk, lewat warna. Lewat kata-kata puisi dan diam-diam hanya bisa kubaca sendiri. Lukisan-lukisanku lebih banyak mengekspresikan perasaanku yang terhubung dengan orang-orang yang ingin aku gapai tanggannya. Entah itu disebut kawan, teman, sahabat, guru, ataupun orang yang membuat hatiku berdegup kencang.
Saat itu, aku mengenalnya, Raka. Seseorang yang banyak dibicarakan: Ketua BEM yang vokal, cerdas, dan supel. Raka pernah membantuku saat kelelahan merapihkan alat-alat menggambar mural dikampus. Ia dengan cepat mengangkut barang-barang mural ke gudang kantin kampus. Aku sadar aku hanya sebagai pemeran tak penting di acara dies natalis kampus, wajar saja tak ada percakapan di antara kami, melihatkupun tidak. Tapi aku bisa merasakan bantuannya yang tulus. Sejak itu, aku mulai memperhatikannya dari kejauhan.
Entah sejak kapan aku mulai menyukai caranya berbicara, memimpin, dan memperjuangkan banyak hal. Ia adalah suara yang tidak kupunya. Suara yang ingin kusampaikan tapi tak pernah bisa keluar. Lucunya, aku si bisu jatuh cinta pada seseorang yang hidup dari berbicara. Aku menikmatinya, menikmati hal-hal kecil yang membuat hatiku berdegup kencang saat melihatnya. Tetep saja aku selalu menghindar, menjauh, saat sudah dekat dengannya ataupun tidak sengaja bertemu dengannya.
Aku tahu batasku. Aku tidak pernah ingin merebut perhatiannya. Aku hanya ingin suatu hari bisa bilang: terima kasih. Karena dia sudah membuatku merasa bahwa aku juga ada.
Sayangnya, waktu tidak pernah menunggu.
Suatu malam, saat sedang menyelesaikan tugas desain, ayah menelepon dari Inggris, ibuku masuk ICU. Tanpa banyak pilihan, aku harus segera pulang ke Inggris. Tiket sudah dibelikan, keberangkatan dua hari lagi.
Dalam kepanikan dan kesedihan, aku mulai menulis surat untuk Raka. Surat yang selama ini hanya kutulis dalam hati, kini kutulis sungguhan. Keberanian darimana saat dalam situasi itu, aku juga mencoba mengirim pesan lewat WhatsApp, tapi centang satu. Lalu email, tak dibalas. Aku dapat nomor Whatshapp dan email dari flyer dies natalis kampus yang menginfokan penanggungjawab dan contact personnya adalah Raka. Sampai akhirnya, surat yang aku tulis kutitipkan melalui teman yang kebetulan aktif di organisasi kampus. Bahkan aku mencoba menitip pesan secara langsung ke sekretariat BEM.
Tapi tidak ada jawaban. Semua pesanku menghilang begitu saja. Tanpa arah. Tanpa jejak.
Hari terakhir sebelum keberangkatan, aku membereskan sisa barangku di gudang kantin kampus. Di sana, aku menemukan jam tangan kulit tua, tertinggal di atas meja. Di baliknya, terukir inisial: R.A.K.A.
Hatiku seakan-akan mau copot, dan tiba-tiba menjadi sosok yang haus pertanyaan.
Apakah ini miliknya? Apakah ia pernah datang mencariku? Atau ini gak sengaja jatuh saat dia bantu aku membereskan barang-barang mural? Atau ini punya siapa ya? Atau punya seseorang yang dekat dengan Raka?
Tak ada kepastian. Aku putuska untuk menyimpannya. Kupikir, suatu saat nanti, aku akan mengembalikannya sendiri. Dan harus aku yang mengembalikannya.
Dua tahun berlalu.
Aku menyelesaikan studi di Inggris, ibuku teah tiada dan aku merawat ayah yang kini sendiri. Hari-hariku tenang, tapi tetap terasa kosong. Aku mulai bekerja sebagai ilustrator dan penulis komik. Banyak dari karyaku diam-diam terinspirasi oleh Raka yaitu tentang perjuangan, tentang rasa, suara, tentang kehilangan, tentang perasaan yang tak pernah bisa disampaikan.
Sampai suatu malam, aku membuka akun media sosial kampus lama. Tanpa sengaja, aku menemukan sebuah unggahan reuni:
Reuni Alumni Fakultas 2019–2024
Narasumber: Raka Alief – Penulis buku “Pesan yang Tak Pernah Sampai”
Aku terpaku. Mataku tak bisa lepas dari layar. Aku menyimak tanpa skip, saat sesi wawancaranya, di video itu benar adanya, dia Raka orang yang aku ingin gapai tangannya dan disitu aku mendengar satu pernyataan Raka yang membuat jantungku berdetak tak karuan:
“Buku ini saya tulis karena seseorang yang tak pernah sempat saya kenal lebih dalam, tapi sangat membekas. Saya kehilangan jam tangan saat itu. Mungkin dia menemukannya.”
Tangisku pecah.
Ia mengetahui.
Ia mencariku.
Tapi tak pernah tahu, karena aku selalu sembunyi di punggung badan orang dan Gedung-gedung kampus itu.
Beberapa bulan kemudian, aku kembali ke Indonesia. Ke kampus tempat semuanya bermula. Dalam tas kecilku, kubawa jam tangan itu, dan sepucuk surat yang baru aku tulis, surat yang sama, iya isinya aku anggap sama dengan yang pernah aku tuliskan sebelumnya, aku berusah mengingat apa saja yang aku tulis saat itu, aku berharap aku bisa memberikan surat ini langsung.
Di hall kampusku, ada acara launching buku dan tentu saja aku melihatnya. Raka. Ia masih seperti dulu, tapi lebih dewasa. Aku ikut mengantre tanda tangan bukunya, bukan karena ingin kenang-kenangan, tapi karena ingin menyerahkan satu pesan terakhir.
Saat giliranku tiba, ia menyapaku seperti orang asing. “Namanya siapa?”
Aku hanya tersenyum. Kuserahkan sebuah kotak kecil. Di atas sampul bukunya, kutempelkan secarik kertas:
“Untuk Raka. Dari seseorang yang pernah diam-diam mengagumimu.
Terima kasih telah menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara.”
Ia membuka kotak itu. Melihat jam tangan yang selama ini ia kenali. Matanya membulat, lalu perlahan menatapku lama.
Tak ada kata keluar. Tapi pandangannya cukup menjelaskan semuanya.
Aku membentuk isyarat kecil dengan kedua tanganku menangkup:
Terima kasih.
Lalu aku pergi, tanpa menoleh lagi.
Karena tidak semua pesan harus dijawab. Ada pesan yang memang ditakdirkan tidak pernah sampai, tapi tetap mampu mengubah segalanya.
Diskusi karya
0 tampilKomentar penulis & pembaca
Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.