Fiksi Mini

SANDIWARA TAKDIR

SANDIWARA TAKDIR
Adzan subuh selesai berkumandang. Terdengar perdebatan hebat antara anak semata wayang, yaitu pemuda berusia 22 tahun bernama Gani dengan ibunya. “Kamu harus menikah ama Mona, titik!” kata ibunya dengan nada tegas. “Ibu tolong ini bukan zaman siti Nurbaya, apalagi aku cowok, aku gak mau dijodohkan,” kilah Gani. “Ibu gak peduli ya Gani, besok Mona akan datang kerumah bersama orangtuanya, kita akan makan bersama,” tegas ibu Gani.
Malam harinya, Gani memutar otaknya bagaimana cara agar Gani tidak bertemu dengan gadis yang namanya Mona. “Aduh gimana ini, kabur aja deh,” batin Gani dalam hati.
Jam 1 tepat dini hari, Gani memutuskan untuk kabur dari rumah. “Yes berhasil, ibu marah urusan entar,” kata Gani diam-diam pergi dari rumah pakai motor.
Dalam perjalanan, Gani hanya bisa muter-muter, sampai akhirnya waktu subuh pun tiba, Gani ngebut dengan motornya berniat mencari masjid di daerah yang lebih jauh lagi. “Woiiii awaaaaassss woiiiii, braaakk,” Gani dan motornya jatuh. “sakittttt huuuf”, terdengar suara seorang gadis. “Waduh gawat, mbak gak pa-pa? Subuh-subuh gini mbak mau kemana? Jalan kaki sendirian,” kata Gani penasaran. “Gak pa-pa, gak tahu mau kemana…boleh gak diantar kemana gitu,” jelas gadis itu. “Mba percaya sama aku? Aku juga sama gak tahu mau kemana?”, jawab Gani sambil meriksa tubuhnya. “Kok bisa mas? Kabur dari rumah yaaaa? Samaan donk, kenalkan aku Lasti” kata Lasti memperkenalkan diri. “aku Gani, ayo naik motor Lasti kita ke masjid dulu mau subuhan,”
Selesai sholat subuh, Gani dan Lasti saling bercerita apa yang menjadi sebab mereka sama-sama kabur dari rumah. Gani jelas tidak mau dijodohkan dengan Mona karena ada gadis idaman di kampusnya, gadis impian Gani bernama Lisa. Ternyata, Lasti memiliki cerita yang sama yaitu tidak mau dijodohkan oleh ayahnya dengan sahabat masa kecil Lasti sendiri. Apapun akan dilakukan Gani dan Lasti meskipun mereka harus memutuskan untuk nekad bersandiwara bahwa Gani akan menikahi Lasti.
Sandiwara itu akhirnya dilakukan, dan Lasti diajak ke rumah Gani hari itu juga. Terlihat ayah dan ibu Gani di teras rumah dengan raut wajah marah dan sedih.
“Ganiiii” teriak ibunya Gani saat melihat Gani masuk pekarangan rumah. “Ayah Ibu maaf aku tadi malam menjemput gadis impian aku, ini dia Ibu…namanya Lasti, aku akan menikahi Lasti hari ini juga, aku tidak bisa lagi menerima atau memberikan harapan hamba tentang masa depanku dengan Mona, “ jelas Gani yakin.
Lasti masih kikuk dan takut campur aduk, memberanikan diri menyapa ke orangtua Gani. Akan tetapi yang dilakukan Lasti sia-sia karena ibunya Gani langsung menarik Gani ke dalam rumah dan meninggalkan Lasti di luar.
Saat Gani di dalam ruang tengah, terlihat hidangan lengkap ala restoran padang siap disantap. Mata Gani tak bisa lepas dari pandangan ke seorang gadis berambut panjang, dengan gaun warna biru. “Li..li saa” kata Gani dengan mulut bergetar. Gadis yang dipanggil Lisa hanya bisa tersenyum dan heran, kenapa Gani datang dari luar rumah. “Gani duduk, ini adalah pak Santoso dan putrinya Mona,” jelas ibunya Gani. “Jadi Ibu, Mona itu gadis yang ada di depanku ini? Ini ini Lisa bu bukan Mona,” jawab Gani masih bergetar mulutnya. “Iya Gani aku Monalisa, di kampus aku dipanggil Lisa tapi jika di rumah dan keluarga aku dipanggil Mona,” jelas Mona. “Ibu aku mau, aku mau dijodohkan, hari ini aku nikahin Mona, aku siap,” jawab Gani bersemangat. “Jadi Lasti..bagaimana?” sidik Ibunya Gani.
Selama ini Lasti hanya gadis impian yang menjadi bagian sandiwara agar perjodohan batal, akan tetapi takdir berkata jika gadis impian Gani sebenarnya adalah Monalisa, gadis yang sama dengan gadis yang dijodohkan dengan ibunya.

Diskusi karya

Komentar penulis & pembaca

Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.

0 tampil
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.