SEPERTIGA MALAM
Zaenab sudah mau SMP dan dipaksa mondok oleh abahnya. Abahnya sangat terkemuka di desa Zaenab, dan dipanggil kyai Zaenal. Kyai Zaenal sangat berwibawa dan terkenal karena keilmuwannya, kyai Zaenal memiliki seorang anak semata wayang.
Zaenab adalah anak gadis yang tomboy dan terlihat sedikit berantakan. Kerudung bergo yang dipakainya sering tidak rapi dan tidak senada dengan baju yang dikenakan. Untungnya paras ayu Zaenab dapat menutupi penampilan berantakannya itu. Zaenab sangat hobi melihat film-film bergenre horror, akan tetapi sesungguhnya Zaenab itu sangat penakut.
Pada suatu malam dirumah Zaenab. “Nab, abah mau bicara,” kata Kyai Zaenal kepada anaknya Zaenab. “Ada apa lagi abah?aku tidak mau mondok titik,” jawab Zaenab menegaskan. “Sini jangan menghindar jika orangtua ingin bicara,” tegas kyai Zaenal.
Terpaksa dengan berat langkah kaki Zaenab mendekati abahnya. “Nab, kamu itu anak perempuan abah satu-satunya, abah tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk meneruskan perjuangan dakwah di desa ini selain dirimu Nab. Mondok satu-satunya cara untuk Zaenab dapat bekal ilmu agama yang lebih mendalam,” kata kyai Zaenal panjang lebar. “Aku tidak mau mondok abah, aku itu gak mau mandiri gak ada abah disana, aku takut. Abah kan bisa mengajari aku ilmu agama, gak harus mondok,” jawab dari Zaenab.
Dengan menghela nafas panjang, kyai Zaenal meninggalkan Zaenab dan terlihat berhenti memandang foto istri kyai Zaenal. Ternyata istri kyai Zaenal sudah meninggal setahun yang lalu. Terasa sangat berat rasanya mengurus Zaenab anak perempuannya sendirian. Kyai Zaenal merasa tidak percaya diri, karena Zaenab masih butuh sentuhan dan didikan seorang ibu. Oleh karena itu, kyai Zaenal memutuskan untuk memondokkan Zaenab meskipun masih usia remaja, yaitu baru mau masuk SMP.
Melihat pemandangan itu, Zaenab merasakan kerinduan yang sama dengan abahnya saat melihat foto almarhumah uminya Zaenab. “Abah, Zaenab sangat takut jika sendirian, tapi jika Abah memaksakan Zaenab harus mondok, Zaenab minta tolong untuk selalu dijenguk minimal semingggu 3x,” pinta Zaenab.
Kyai Zaenal berjalan sedikit berlari menuju anaknya Zaenab. “MasyaAllah alhamdulillah Zaenab, iya Nab abah kalau perlu tiap hari akan jenguk Zaenab, terimakasih banyak Zaenab sudah mau nurut abah. Jangan lupa malam nanti, sholat tahajudnya jangan pakai lupa lagi dan jangan teriak-teriak ketakutan kayak sebelum-sebelumnya. Tidak ada apa-apa. Setanpun tidak ada .” Jelas kyai Zaenal. Dengan lemas Zaenab berfikir kenapa tadi berkata seperti itu.
Sepertiga malam pun tiba, pukul 03.15 alarm Zaenab berbunyi, dan membangunkan Zaenab. Zaenab seperti biasa merasa takut berhalusinasi jika jam – jam segitu pasti banyak setan yang bergentanyangan. Zaenab dengan cepat-cepat mengambil air wudhu dan mulailah Zaenab sholat tahajud. Tiba-tiba Zaenab berteriak kencang sekali. “Abaaaaaaaahh, apa ada ini di mukenakuuu,” teriak Zaenab. Kyai Zaenal pun berlari menghampiri Zaenab, “Zaenab tidak ada setan, jangan teee..eh to to to to keeeeeekkk.” teriak kyai Zaenal berlari ketakutan meninggalkan Zaenab.
Diskusi karya
0 tampilKomentar penulis & pembaca
Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.