Namaku Tara.
Anak perempuan biasa dari ibu tunggal yang hidup di kota. Ekonomiku cukup, sekolahku lancar, dan hidupku hmmm sangat membosankan. Setiap hari terasa datar. Seolah dunia hanya lewat tanpa suara.
Sampai dia datang.
Sakti, tetangga baru yang tinggal di rumah sebelah. Wajahnya tenang, matanya dalam, dan langkahnya seolah tahu ke mana akan menuju. Kita satu sekolah, iya tentu saja. Di sekolah, dia cepat jadi pusat perhatian. Tapi bukannya disukai, ia justru dibenci. Mungkin karena dia terlalu sempurna.
Entah kenapa, aku tak peduli. Aku justru tertarik. Aku memberanikan diri untuk menyapa, setiap hari senyumku dan kesopananku dipertaruhkan. Sampai akhirnya kami mulai sering mengobrol. Di taman depan rumah, di tangga sekolah, di halte. Aku mulai menanti-nanti kehadirannya. Menyukai cara dia menjawab tanpa basa-basi. Menyukai caranya diam.
Dia pernah bertanya, "Apa kamu pernah merasa tidak bisa merasakan apa-apa, Tara?"
Aku mengangguk. "Setiap hari," jawabku.
Kami tertawa. Tapi dalam.
Kemudian, aku mulai merasa aneh. Teman-temanku tak pernah menatapku. Ibuku tak pernah menyebut namaku. Bahkan di kelas, guru tak pernah memanggilku. Hanya Sakti yang benar-benar melihatku. Yang benar-benar mendengarku. Entah apa alasannya, kehadirannya membuat hidupku yang membosankan jadi lebih mengasyikan.
Lalu suatu sore, dia datang menemuiku. Wajahnya lelah. Tatapannya kosong.
"Tara... kalau suatu hari kamu nggak ada, aku bakal ngerasa apa, ya?"
Aku hanya tersenyum. "Mungkin untuk pertama kalinya, kamu akan benar-benar merasa kehilangan."
Minggu sore, yang seharusnya menjadi hari yang indah bagi Tara karena akan menyambut hari esok yang lebih ceria Bersama Sakti.
Tara sakit, dan entah kenapa, Sakti ikut tersambung sakitnya Tara. Mereka kembali bertemu di rumah sakit.
Pada akhirnya, di ruangan putih itu, Sakti duduk menatap jendela. Matanya merah. Tangannya gemetar.
Tak ada suara Tara. Tak ada tawa. Tak ada langkah kaki ringan yang mengikutinya dari belakang.
Di meja dokter, berkas tertulis: Pasien 114. Nama: Sakti Aryasatya. Diagnosis: Gangguan neurologis dan emosi kompleks. Gejala: Ketidakmampuan merasakan emosi dasar (apatis afektif). Respon pasien: Menciptakan tokoh fiktif bernama Tara, gadis remaja yang menjadi manifestasi emosional dari dirinya yang ingin ‘merasakan’.
Beberapa hari kemudian, staf rumah sakit menemukan secarik kertas di bawah bantal Sakti. Tulisannya rapi dan sederhana: "Jika aku tak pernah ada, mengapa kamu menangis saat aku pergi?". Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sakti menangis.
Diskusi karya
0 tampilKomentar penulis & pembaca
Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.