UANG KERTAS GALA DAN GALU
Gala seperti biasa mengajak Galu ke persimpangan jalan Madukara. Siang itu, hujan lebat dan angin bertiup kencang membuat rambut Gala basah dan berantakan. Gala pun memegang erat badan Galu supaya tidak jatuh terkena angin kencang.
“Lupa bawa jas hujan Galu, gak apa-apa ya? kita hujan-hujanan dulu,” kata Gala menenangkan Galu.
Galu diam dan hanya bisa nurut semua perkataannya Gala.
Saat hujan mulai reda, Gala langsung bersiap dan memberikan aba-aba kepada Galu agar siap juga. Gala tak lupa memakai kalung kehormatan dari bahan ramah lingkungan yang bertuliskan ‘TERIMAKASIH SUDAH MEMBERIKAN UANG KERTASNYA KEPADA KAMI’. Gala dan Galu menerima upah bernyanyi hanya dengan uang kertas dan tidak mau uang koin.
Saat lampu merah menyala, Gala dan Galu menuju ke jalan raya. Gala memulai menyanyikan lagu-lagu viral ke pengguna jalan yang lewat. Galu pun tak mau ketinggalan beraksi, meskipun Galu tidak bisa bernyanyi tapi Galu selalu menemani Gala kapanpun dan dimanapun.
“Ini terima dek,” kata salah satu pengguna jalan yang memberikan koin silvernya.
“Terimakasih banyak Pak, tapi mohon maaf apakah bisa dengan uang kertas saja?” pinta Gala dengan sopan.
“Kenapa dek? kan ini juga uang?” kata pengguna jalan.
“Benar Pak, maaf takut hilang saja jika uang koin. Sahabat saya ini belum bisa menjaga uang koin karena sering jatuh, hilang dan jadikan badan sahabat saya berat,” jawab Gala menjelaskan.
“Oh ini saja kalau gitu,” kata pengguna jalan memberikan uang kertas abu - abu.
“Alhamdulillah, terimakasih banyak Pak.” kata Gala bersyukur atas kebaikan orang lain.
Sudah hampir tiga jam, Gala dan Galu beristirahat di taman dekat persimpangan lampu merah.
“Galu, terimakasih banyak sudah selalu menemaniku. Terimakasih juga selalu jagain uang kertas kita. Ingat kan Galu kita punya mimpi untuk menggenapkan tabungan umroh Emak, nah ini aku lipatin dulu uang kertasnya, nanti aku kasih kamu semua,” kata Gala kepada Galu.
Gala sangat pandai melipat uang kertas dengan lipatan yang khusus. Jadi lipatan uang kertas ini hanya Gala yang bisa melakukannya. Waktu sudah mau maghrib, Gala dan Galu pun pulang kerumah.
Malam pun tiba, setelah menyantap makan malam, Gala dan Galu pun tidur bersama di ruangan kamar sempit yang beralaskan tikar dan satu buah bantal.
“Alhamdulillah hari ini kita dapat lumayan ya Galu, tapi tenang badan kamu gak akan bertambah berat kok, tolong jaga baik-baik yaa,” pesan Gala kepada Galu.
Keesokan harinya, Gala terbangun dan mendapati Galu masih terdiam di sampingnya. Saat Gala mengajak bercanda dengan Galu, ada hal aneh yang terjadi pada Galu.
“Kamu bukan Galu, dimana Galu, kamu bukan Galu, Galuuuuuu,” teriak Gala.
“Ada apa Gala? kok teriak sampai kayak gitu?” tanya Emak kepada Gala.
“Galu dimana Emak? Galu dimana?” tangis Gala pun mulai terdengar.
“Lho bukannya Galu selalu kamu bawa, tadi malam Emak lihat Galu masih di atas kasur kamu,” kata Emak.
“Ayo Emak sini, lihat Emak ini bukan Galu,” kata Gala sambil menggoyang-goyangkan badan Galu.
“Ini kan Galu, kenapa kamu bilang ini bukan Galu?” tanya Emak kebingungan.
“Ini bukan Galu sahabatku, aku tidak tahu ini punya siapa. Galu tidak pernah berat badannya, ini kenapa ada uang koin, harusnya hanya uang kertas saja” jelas Gala sambil mengambil uang kertas di badan yang mirip Galu.
Ternyata memang benar, uang kertas yang tersimpan hanya uang kertas yang dilipat biasa. Lipatan Gala tidak pernah seperti itu. Gala pun lemas tak berdaya, karena sahabatnya tiba-tiba menghilang. Hari itu juga, Gala hanya dirumah saja dan tidak berhenti menangis. Gala sudah mencari-cari tapi tidak ketemu.
“Assalamu’alaikum Emak Gala,” kata tetangga Gala ingin bertamu.
“Wa’alaikumussalam Mama Uno, ada apa ya? apa ada yang ketinggalan?” tanya Emak Gala.
Tadi malam Uno memang main mencari Gala, tapi karena Gala sudah tidur akhirnya Uno pun pulang.
“Mohon maaf Emak, ini punya Gala tidak ya? karena punya Uno tidak seenteng ini, takutnya ketukar.” Jelas Mama Uno.
“Galaaaa, sini sebentar dan bawa Galu kesini,” teriak Emak kepada Gala.
“Ini Emak, sudah dibilang ini bukan Galu,” kata Gala dengan lemas.
“Apa ini yang namanya Galu?” tanya Mama Uno kepada Gala.
“Galuuuuuuuuuuuuu, Galuuu kemana saja kamu? akhirnya kamu kembali. Aku bisa langsung tahu jika kamu gak ada karena uang kertas kita. Aku akan memberikan tanda lahir agar tidak tertukar lagi,” kata Gala
Akhirnya Galu pun diberikan tanda lahir oleh Gala berupa tato manis bertuliskan ‘Galu dan uang kertas kita’.
Diskusi karya
0 tampilKomentar penulis & pembaca
Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.